Dalam rapat dengan Komisi IX DPR pada 4 Februari 2025, Menteri Ketenagakerjaan menyampaikan bahwa hitungan awal efisiensi anggaran kementeriannya mencapai 57 persen. Alokasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk 2025 sebesar Rp4,80 triliun, sehingga sisanya sekitar Rp2 triliun. Pemangkasan ini bagian dari pengurangan belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp256,1 triliun (Nugraheny, 2025a).
Dampaknya segera terasa pada pelatihan. Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas mengumumkan bahwa pelatihan berbasis kompetensi di seluruh penyelenggara ditunda dengan merujuk Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025. Pada 12 Februari 2025, Wakil Menteri Ketenagakerjaan mengajak dunia usaha berbagi biaya penyelenggaraan pelatihan kerja (Nugraheny, 2025b). Bagi perusahaan, artinya sebagian beban pelatihan, termasuk pelatihan K3, makin bergantung pada anggaran sendiri. Pertanyaannya, metode mana yang memberi hasil terbaik per rupiah?
Kriteria Pembanding
Kami membandingkan empat pendekatan dengan tiga kriteria: penambahan pengetahuan, perubahan perilaku dan dampak pada kecelakaan, serta struktur biayanya. Bukti utama berasal dari dua meta-analisis tentang pelatihan K3, satu kajian Cochrane tentang e-learning, dan satu kajian sistematis Indonesia tentang realitas virtual.
Meta-analisis Burke et al. (2006) atas 95 studi kuasi-eksperimen dengan 20.991 peserta membagi metode menjadi tiga kelompok: paling sedikit melibatkan peserta (ceramah, pamflet, video), cukup melibatkan (instruksi terprogram, intervensi umpan balik), dan paling melibatkan (pemodelan perilaku, latihan langsung). Makin aktif peserta terlibat, makin besar penambahan pengetahuan dan makin besar penurunan kecelakaan, penyakit, dan cedera. Semua metode tetap menghasilkan perbaikan kinerja perilaku yang berarti (Burke et al., 2006).
Empat Pendekatan
- Ceramah di kelas. Biaya per peserta rendah dan mudah dijadwalkan. Meta-analisis 28 studi periode 2007 sampai 2014 menemukan pelatihan kelas, metode yang paling banyak dipakai dan diteliti, tidak bermakna untuk hasil pengetahuan dan efektivitasnya menurun untuk sikap, perilaku, dan kesehatan (Ricci et al., 2016).
- E-learning atau daring. Biaya tetapnya ada di pembuatan materi, lalu murah untuk peserta tambahan. Kajian Cochrane atas 16 uji acak dengan 5.679 tenaga kesehatan menemukan e-learning mungkin memberi sedikit atau tidak ada perbedaan pengetahuan dibanding pembelajaran tradisional, dengan tingkat kepastian bukti rendah, dan pengaruhnya pada keterampilan belum pasti (Vaona et al., 2018).
- Praktik langsung dan pemodelan perilaku. Biaya per peserta paling tinggi karena memerlukan instruktur, alat, dan kelompok kecil. Inilah kelompok yang dalam Burke et al. (2006) memberi penambahan pengetahuan dan penurunan kecelakaan terbesar.
- Simulasi digital dan realitas virtual. Investasi awalnya besar, tetapi dapat dipakai berulang. Kajian sistematis atas 16 artikel periode 2017 sampai 2023 menyimpulkan realitas virtual dapat menciptakan lingkungan belajar yang realistis untuk sektor berisiko tinggi dan berdampak positif pada kesadaran K3 (Pribadi et al., 2023).
Kelebihan dan Kekurangan
Saat anggaran ketat, godaannya adalah memilih metode dengan biaya per peserta terendah, yaitu ceramah massal atau kelas daring tanpa interaksi. Bukti di atas mengarah ke kesimpulan yang lebih bernuansa. E-learning tampak setara dengan pembelajaran tradisional untuk pengetahuan, sehingga wajar dipakai menggantikan ceramah. Namun, ceramah sendiri adalah metode yang paling lemah dalam meta-analisis, sehingga mengganti ceramah dengan video daring menghemat biaya tanpa menambah mutu. Yang tidak tergantikan adalah latihan tangan, pemodelan perilaku, dan dialog, karena di situlah penurunan kecelakaan paling besar ditemukan.
Menurut kami, pilihan terbaik dalam kondisi efisiensi adalah pembagian peran: materi pengetahuan dasar dipindahkan ke daring, sedangkan waktu tatap muka yang mahal dipakai sepenuhnya untuk praktik, umpan balik, dan diskusi kasus nyata di tempat kerja. Simulasi digital layak dipertimbangkan untuk pekerjaan yang berbahaya atau mahal bila dilatihkan secara nyata, misalnya isolasi energi atau keadaan darurat proses.
Bukti ini punya batas. Sebagian besar studi Burke et al. (2006) berasal dari luar Indonesia, kajian Cochrane meneliti tenaga kesehatan, bukan pekerja industri, dan kajian realitas virtual mencakup jumlah artikel yang kecil. Pelatihan yang berujung pada sertifikasi atau lisensi tetap mengikuti ketentuan penyelenggara dan instansi yang berwenang, sehingga pilihan metode di atas paling relevan untuk pelatihan internal, penyegaran, dan pelatihan khusus tugas.
Langkah Praktis
- Petakan pelatihan K3 yang wajib, yang berbasis risiko, dan yang hanya rutinitas, lalu prioritaskan anggaran untuk pekerjaan berisiko tinggi.
- Pindahkan materi pengetahuan ke modul daring yang singkat dan disertai kuis.
- Gunakan sesi tatap muka untuk latihan langsung, simulasi, dan pemodelan perilaku dalam kelompok kecil.
- Ukur hasil di lapangan, misalnya observasi perilaku dan temuan inspeksi, bukan hanya nilai ujian.
Nusa Safety dapat membantu perusahaan menyusun ulang program pelatihan agar anggaran yang terbatas tetap tepat sasaran melalui Pengembangan Modul Pelatihan, menyediakan latihan berbasis skenario lewat Simulator Keselamatan Digital, dan melatih kesiapsiagaan lewat Pelatihan dan Simulasi Tanggap Darurat. Nusa Safety hanya menerbitkan sertifikat pelatihan internal, bukan PJK3, dan menyelenggarakan program bersertifikat bersama mitra berizin. Untuk membicarakan kebutuhan tertentu, silakan hubungi tim Nusa Safety.
Artikel ini adalah informasi umum dan bukan nasihat hukum atau profesional untuk kasus tertentu.
Daftar Pustaka
- Burke, M. J., Sarpy, S. A., Smith-Crowe, K., Chan-Serafin, S., Salvador, R. O., & Islam, G. (2006). Relative effectiveness of worker safety and health training methods. American Journal of Public Health, 96(2), 315-324. https://doi.org/10.2105/AJPH.2004.059840
- Nugraheny, D. E. (2025a, February 4). Dipangkas 57 persen, anggaran Kemenaker tinggal Rp 2 triliun [Cut by 57 percent, the Ministry of Manpower budget falls to Rp2 trillion]. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2025/02/04/180456926/dipangkas-57-persen-anggaran-kemenaker-tinggal-rp-2-triliun
- Nugraheny, D. E. (2025b, February 12). Ada efisiensi anggaran, Wamenaker ajak pengusaha sharing cost pelatihan kerja [Amid budget efficiency, deputy minister invites employers to share job training costs]. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2025/02/12/181300726/ada-efisiensi-anggaran-wamenaker-ajak-pengusaha-sharing-cost-pelatihan-kerja
- Pribadi, A. P., Jaladara, V., Silalahi, C. D. A. B., & Rahman, Y. M. R. (2023). Application of digital simulation for training purposes through virtual reality in the workplace. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 12(3), 457-464. https://doi.org/10.20473/ijosh.v12i3.2023.457-464
- Ricci, F., Chiesi, A., Bisio, C., Panari, C., & Pelosi, A. (2016). Effectiveness of occupational health and safety training: A systematic review with meta-analysis. Journal of Workplace Learning, 28(6), 355-377. https://doi.org/10.1108/JWL-11-2015-0087
- Vaona, A., Banzi, R., Kwag, K. H., Rigon, G., Cereda, D., Pecoraro, V., Tramacere, I., & Moja, L. (2018). E-learning for health professionals. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2018(1), CD011736. https://doi.org/10.1002/14651858.CD011736.pub2