SISTEM AKTIF · SEN–SAB 08.00–17.00 WIB Instagram LinkedIn

Pelatihan LOTO Berbasis VR

Telaah kritis atas tiga penelitian pelatihan keselamatan berbasis VR dan maknanya bagi pelatihan lockout/tagout di tempat kerja Indonesia.

Oleh M. Reza Huzain, SKM, MKKK 10 menit baca

Ilustrasi isometrik ruang pelatihan yang tertata, dengan peserta berlatih di panel fisik dan peserta lain menggunakan headset VR di samping bengkel pemeliharaan.
Daftar isi
  1. Abstrak
  2. Pendahuluan
  3. Metode
  4. Hasil dan Pembahasan
  5. Keterbatasan
  6. Simpulan dan Saran

Abstrak

Realitas virtual imersif (virtual reality, VR) makin sering ditawarkan sebagai media pelatihan keselamatan, termasuk pelatihan pengendalian energi berbahaya melalui lockout/tagout (LOTO), sementara keputusan pembeliannya kerap bersandar pada studi kasus vendor, bukan penelitian terkendali. Artikel ini menelaah secara kritis bukti untuk satu pertanyaan praktis: apakah VR imersif menghasilkan pembelajaran dan luaran keselamatan yang lebih baik daripada pelatihan konvensional, dan sejauh mana temuan itu berlaku untuk LOTO? Tiga penelitian kunci yang ditemukan melalui penelusuran web pada 1 November 2026 ditelaah, yaitu dua eksperimen yang membandingkan VR imersif dengan pelatihan PowerPoint, satu eksperimen tiga kelompok yang membandingkan VR imersif, VR desktop, dan manual cetak untuk keselamatan laboratorium, serta satu meta-analisis atas 52 penelitian pelatihan keselamatan berbasis VR. Meta-analisis tentang metode pelatihan dan penelitian Indonesia tentang praktik LOTO dipakai sebagai konteks. Tidak ditemukan uji terkendali yang ditelaah sejawat tentang pelatihan VR khusus LOTO. VR tidak secara konsisten meningkatkan pengetahuan segera dibandingkan media konvensional, sedangkan keunggulannya tampak pada tugas transfer, kesenangan belajar, dan luaran pengetahuan gabungan. Sampelnya kecil, pesertanya sebagian besar mahasiswa atau peserta magang, tindak lanjutnya pendek, dan perilaku di tempat kerja tidak diukur. Penulis menyimpulkan bahwa VR layak menjadi bagian pelatihan LOTO bila menambah latihan langkah yang tidak aman dilatih pada peralatan bertenaga, tetapi pengaruhnya terhadap praktik lapangan belum terbukti dan perlu diverifikasi di tempat kerja masing-masing.

Kata kunci: lockout/tagout, realitas virtual, pelatihan keselamatan, pengendalian energi berbahaya, telaah kritis

Pendahuluan

Penelitian tentang pelatihan keselamatan kerja sudah dua dekade menunjukkan bahwa cara pelatihan disampaikan ikut menentukan hasilnya. Meta-analisis atas 95 penelitian menemukan bahwa makin aktif keterlibatan peserta, dari ceramah, pamflet, dan video sampai metode yang menuntut partisipasi langsung, makin tinggi pengetahuan yang diperoleh dan makin turun kecelakaan, penyakit, serta cedera (Burke dkk., 2006). Meta-analisis berikutnya atas 113 penelitian menambahkan bahwa pelatihan praktik langsung atau simulasi jauh lebih efektif daripada pelatihan ceramah atau berbasis web ketika keparahan bahaya tinggi, tetapi hasil keduanya setara ketika keparahan bahaya rendah (Burke dkk., 2011).

Pelepasan energi berbahaya yang tidak terkendali saat perawatan dan perbaikan termasuk bahaya berkeparahan tinggi dalam pengertian itu. Badan keselamatan kerja Amerika Serikat memperkirakan bahwa kepatuhan pada standar lockout/tagout mencegah sekitar 120 kematian dan 50.000 cedera setiap tahun (Occupational Safety and Health Administration [OSHA], 2022). Standar tersebut mewajibkan setiap pekerja yang berwenang dilatih mengenali sumber energi berbahaya, jenis dan besar energinya, serta cara isolasi dan pengendaliannya, dan mewajibkan pelatihan ulang ketika pemeriksaan berkala menemukan penyimpangan dalam pengetahuan atau penerapan prosedur (OSHA, 1989). Di Indonesia, Pasal 9 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja mewajibkan pengurus menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja di bawah pimpinannya dalam pencegahan kecelakaan (Republik Indonesia, 1970).

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa praktik LOTO di lapangan sering belum utuh. Pada mekanik di plant department sebuah perusahaan tambang, penerapan LOTO berhubungan dengan faktor perilaku (Hapsari & Ardyanto, 2014). Analisis atas insiden kegagalan LOTO di sebuah pembangkit listrik dengan Systematic Cause Analysis Technique menelusuri kegagalan itu ke faktor individu, pekerjaan, dan manajemen, lalu mengusulkan revisi prosedur LOTO dan uraian tugas pengawas (Dewi & Zebua, 2018).

VR imersif dipromosikan sebagai cara membuat pelatihan semacam ini lebih melibatkan peserta tanpa memaparkan mereka pada energi yang masih aktif. Sebuah tinjauan pustaka sistematis dari Indonesia menyimpulkan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan VR sebagai salah satu metode pelatihan paling efektif saat ini (Pribadi dkk., 2023). Persoalannya, penelitian yang mendasari simpulan semacam itu sangat beragam dalam desain dan luaran, dan bukti yang khusus tentang LOTO masih tipis. Tulisan ini bertujuan menelaah secara kritis tiga penelitian empiris kunci tentang pelatihan keselamatan berbasis VR imersif dan menilai sejauh mana temuannya dapat memandu rancangan serta evaluasi pelatihan LOTO di tempat kerja Indonesia.

Metode

Kajian ini berjenis telaah penelitian atas sejumlah kecil penelitian kunci, bukan tinjauan sistematis. Seluruh penelusuran dilakukan pada 1 November 2026 dengan mesin pencari web umum. Upaya membuka teks lengkap di repositori perguruan tinggi dan memeriksa layanan Crossref ditolak oleh jaringan kerja yang dipakai, sehingga informasi setiap penelitian diambil dari abstrak, catatan penerbit dan repositori, serta ringkasan hasil pencarian. Teks lengkapnya tidak dibaca. Basis data bibliografis seperti Scopus, Web of Science, dan PubMed tidak ditelusuri secara langsung.

Kata kunci penelusuran antara lain virtual reality lockout tagout training, VR LOTO effectiveness study, immersive virtual reality PowerPoint safety training, virtual reality safety training meta-analysis, penerapan LOTO, dan pelatihan K3 realitas virtual. Rentang tahun sumber adalah 2006 sampai 2026.

Penelitian kunci harus terbit di jurnal yang ditelaah sejawat pada 2016 atau sesudahnya, membandingkan VR imersif dengan sekurangnya satu media konvensional untuk materi keselamatan atau mensintesis perbandingan semacam itu secara kuantitatif, dan memuat desain, sampel, serta luaran pada catatan yang dapat diakses. Studi kasus vendor dan pracetak dikeluarkan. Satu makalah perguruan tinggi tentang pelatihan VR untuk perawatan mesin dengan LOTO ditemukan, tetapi catatan yang dapat diakses hanya memuat protokol penelitian dan evaluasi awal. Setiap penelitian kunci diperiksa dari sisi desain, peserta, luaran dan waktu pengukuran, hasil, kelemahan, serta relevansinya bagi LOTO. Jumlah catatan yang disaring tidak dicatat dan karena itu tidak dilaporkan.

Hasil dan Pembahasan

Penelitian yang Ditelaah

Tiga penelitian memenuhi kriteria. Penelitian pertama melaporkan dua eksperimen yang membandingkan pelatihan keselamatan dalam VR imersif dengan presentasi PowerPoint yang memuat cuplikan film yang hidup, dengan luaran persepsi risiko, pembelajaran, dan pilihan berisiko (Leder dkk., 2019). Penelitian kedua membandingkan simulasi keselamatan laboratorium dalam VR imersif, simulasi yang sama di komputer desktop, dan manual keselamatan konvensional, dengan luaran kesenangan belajar, motivasi, efikasi diri, tes retensi, dan dua tes transfer di laboratorium fisik (Makransky, Borre-Gude, dkk., 2019). Penelitian ketiga meninjau 52 artikel terbitan 2013 sampai 2021 tentang pelatihan keselamatan berbasis VR di luar bidang medis dan militer serta melaporkan dua meta-analisis (Scorgie dkk., 2024). Tidak satu pun membahas LOTO, dan ketiadaan ini merupakan salah satu temuan penelusuran.

Ilustrasi isometrik tiga stasiun pelatihan: VR, komputer desktop, dan manual cetak.
Tiga media pelatihan dibandingkan dalam satu studi laboratorium terkontrol.

Desain dan Sampel

Eksperimen pertama Leder melibatkan 53 peserta magang, sedangkan eksperimen kedua melibatkan 68 peserta, mencoba mereplikasi eksperimen pertama, dan menilai efek setelah enam bulan (Leder dkk., 2019). Eksperimen Makransky melibatkan 105 mahasiswa teknik tahun pertama dalam tiga kondisi (Makransky, Borre-Gude, dkk., 2019). Menurut perhitungan penulis, rata-rata peserta per kondisi hanya sekitar 26 sampai 35 orang, jumlah yang kecil untuk mendeteksi perbedaan sedang. Dalam meta-analisis, hanya 9,6 persen penelitian yang secara eksplisit memakai teori dalam mengembangkan aplikasi VR-nya, dan hanya 36 persen yang melaporkan retensi jangka panjang (Scorgie dkk., 2024). Besar efek gabungannya tidak tersedia pada catatan yang dapat diakses.

Hasil Utama

Untuk luaran pengetahuan, hasil eksperimen dan meta-analisis tidak searah. Pada eksperimen pertama Leder, media pelatihan memengaruhi perubahan persepsi risiko dan keputusan berisiko, tetapi tidak memengaruhi pembelajaran, dan efek itu tidak muncul lagi pada eksperimen kedua (Leder dkk., 2019). Para peneliti menyimpulkan bahwa biaya VR imersif tampak tidak sepadan karena pelatihan PowerPoint dengan cuplikan film yang lebih murah tidak berkinerja lebih buruk secara bermakna (Leder dkk., 2019).

Pada eksperimen Makransky, ketiga kelompok tidak berbeda pada tes retensi segera. Kelompok VR imersif mengungguli kelompok teks pada kedua tes transfer di laboratorium fisik, d = 0,54 dan d = 0,57, serta pada kesenangan belajar, d = 1,44. Kelompok desktop mengungguli kelompok teks pada satu tes transfer, d = 0,63, tetapi tidak pada tes lainnya, d = 0,11 (Makransky, Borre-Gude, dkk., 2019).

Meta-analisis menyimpulkan bahwa pelatihan keselamatan berbasis VR mengungguli pelatihan tradisional dalam perolehan dan retensi pengetahuan (Scorgie dkk., 2024). Sebaliknya, eksperimen Makransky dan Mayer bersama rekan penulis lain, yang memakai simulasi laboratorium sains dan bukan materi keselamatan, menemukan bahwa VR imersif meningkatkan rasa kehadiran, d = 1,30, tetapi menghasilkan pembelajaran yang lebih rendah, d = 0,80, dan beban kognitif yang lebih tinggi, d = 0,59, dibandingkan versi desktop pada 52 mahasiswa (Makransky, Terkildsen, dkk., 2019).

Menurut interpretasi penulis, hasil-hasil ini dapat didamaikan. Imersi saja tidak menjamin tambahan pengetahuan dan dapat menambah beban kognitif. Keunggulan muncul ketika pengetahuan harus diterapkan pada tugas praktis, sejalan dengan temuan sebelumnya bahwa manfaat pelatihan yang melibatkan peserta bergantung pada latihan aktif dan tingkat keparahan bahaya (Burke dkk., 2011). Keunggulan gabungan dalam meta-analisis mungkin sebagian berasal dari perbandingan yang kondisi VR-nya juga menambah latihan yang tidak ada pada kondisi pembanding, tetapi dugaan ini tidak dapat diuji dari catatan yang tersedia.

Kelemahan Metodologis

Empat kelemahan membatasi generalisasi. Pesertanya mahasiswa atau peserta magang, bukan teknisi perawatan berpengalaman yang kebiasaannya justru menjadi bagian dari persoalan LOTO (Hapsari & Ardyanto, 2014). Luaran diukur tidak lama setelah pelatihan, dan hanya eksperimen kedua Leder yang mengikuti peserta selama enam bulan (Leder dkk., 2019). Kondisi pembandingnya berbeda, yaitu cuplikan film pada satu penelitian dan manual cetak pada penelitian lain, sehingga istilah pelatihan konvensional tidak bermakna sama antarpenelitian. Terakhir, tidak satu pun penelitian mengukur perilaku yang diamati di tempat kerja atau kejadian cedera, padahal luaran itulah yang paling penting bagi pengendalian energi berbahaya. Meta-analisis mewarisi kelemahan ini, dan catatan yang dapat diakses tidak menunjukkan apakah bias publikasi dinilai.

Relevansi bagi LOTO

Standar OSHA menetapkan capaian pelatihan LOTO, yaitu kemampuan mengenali sumber energi, memahami jenis dan besar energi, serta menguasai cara isolasi (OSHA, 1989). Padanan terdekat dalam bukti yang ditelaah adalah tes transfer yang meminta peserta menerapkan prosedur keselamatan pada persoalan di laboratorium nyata (Makransky, Borre-Gude, dkk., 2019). Temuan ini secara hati-hati mendukung pemakaian simulasi untuk melatih urutan langkah dalam konteksnya. Dalam LOTO, urutan itu berarti mengidentifikasi semua sumber energi, mengisolasi, memasang gembok dan label, melepaskan energi tersimpan, dan memverifikasi isolasi sebelum pekerjaan dimulai (OSHA, 1989). Menurut penulis, di sinilah simulasi memberi sesuatu yang tidak dapat diberikan ruang kelas, karena kesalahan pada langkah-langkah itu tidak boleh dilatih pada peralatan yang masih bertenaga.

Dua temuan memberi batas. VR tidak secara konsisten mengungguli pelatihan konvensional yang dirancang baik dalam hal pengetahuan, sehingga modul VR tidak akan memperbaiki kurikulum yang lemah (Leder dkk., 2019). Penelitian Indonesia menelusuri kegagalan LOTO ke prosedur, peran pengawas, dan perilaku, bukan semata ke pengetahuan individu (Dewi & Zebua, 2018), dan media pelatihan tidak mengubah kondisi tersebut. Rancangan peralatan juga berperan. ISO 14118:2017 mengatur sarana isolasi, penguncian, dan pelepasan energi yang dirancang menyatu dengan mesin untuk mencegah penyalaan tak terduga, dan sarana itu menentukan seberapa mudah isolasi yang benar dilakukan di lapangan (International Organization for Standardization [ISO], 2017).

Keterbatasan

Teks lengkap penelitian yang ditelaah tidak dibaca, sehingga pengacakan, peserta yang keluar, dan analisis statistiknya tidak dapat diperiksa. Tiga penelitian kunci dipilih secara purposif, dan tidak ada perangkat penilaian risiko bias formal yang dipakai. Penelusuran memakai mesin pencari web umum dengan kata kunci bahasa Inggris dan Indonesia saja, sehingga uji terkendali VR untuk LOTO mungkin ada di basis data yang tidak ditelusuri. Penelitian LOTO di Indonesia yang dirujuk bersifat satu lokasi, dan salah satunya berumur lebih dari sepuluh tahun. Temuan ini menyangkut VR imersif dan mungkin berlaku berbeda untuk simulasi 3D di desktop atau program yang menggabungkan simulasi dengan latihan praktik langsung.

Simpulan dan Saran

Bukti yang ditelaah tidak menunjukkan bahwa VR imersif secara konsisten menghasilkan pengetahuan keselamatan yang lebih baik daripada pelatihan konvensional yang dirancang baik, meskipun menunjukkan keunggulan dalam penerapan prosedur pada persoalan praktis dan dalam motivasi. Tidak ditemukan uji terkendali yang ditelaah sejawat khusus untuk LOTO, sehingga temuan ini hanya dapat memandu pelatihan LOTO melalui analogi, dan pengaruh program VR mana pun terhadap praktik lapangan masih harus dibuktikan.

Ilustrasi isometrik latihan panel fisik dan VR untuk langkah LOTO.
Latihan panel fisik dulu, VR melatih langkah yang tak aman di peralatan hidup.

Bagi organisasi yang merencanakan pelatihan LOTO, penulis menyarankan hal berikut:

  • Rumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan unsur yang dituntut prosedur, yaitu pengenalan sumber energi, jenis dan besar energi, isolasi, pelepasan energi tersimpan, dan verifikasi, sebelum memilih media.
  • Pakai simulasi untuk urutan langkah dan keputusan yang tidak aman dilatih pada peralatan bertenaga, dan pertahankan latihan praktik langsung dengan gembok, label, dan langkah verifikasi yang nyata.
  • Nilai pelatihan melalui tugas transfer dan pengamatan isolasi yang sebenarnya di lapangan, dan jadikan temuan pemeriksaan berkala sebagai pemicu pelatihan ulang, alih-alih bersandar pada skor kepuasan atau laporan vendor.
  • Benahi prosedur, peran pengawas, dan rancangan peralatan bersamaan dengan pelatihan.

Penelitian berikutnya perlu membandingkan gabungan simulasi dan latihan praktik dengan latihan praktik saja pada pekerja perawatan di Indonesia, mengukur kepatuhan LOTO yang diamati di lapangan selama sekurangnya enam bulan, serta melaporkan besar efek, biaya, dan teori belajar yang mendasari rancangan simulasinya.

Nusa Safety mengembangkan LOTO Simulator berbasis 3D sudut pandang orang pertama dan simulator keselamatan digital lainnya. Telaah ini bukan evaluasi atas produk tersebut, dan berdasarkan bukti di atas, pengaruhnya, seperti halnya simulasi apa pun, perlu diukur di tempat kerja pengguna sendiri.

Artikel ini merupakan informasi umum, bukan nasihat hukum atau profesional untuk kasus tertentu.

Daftar Pustaka

  1. Burke, M. J., Salvador, R. O., Smith-Crowe, K., Chan-Serafin, S., Smith, A., & Sonesh, S. (2011). The dread factor: How hazards and safety training influence learning and performance. Journal of Applied Psychology, 96(1), 46-70. https://doi.org/10.1037/a0021838
  2. Burke, M. J., Sarpy, S. A., Smith-Crowe, K., Chan-Serafin, S., Salvador, R. O., & Islam, G. (2006). Relative effectiveness of worker safety and health training methods. American Journal of Public Health, 96(2), 315-324. https://doi.org/10.2105/AJPH.2004.059840
  3. Dewi, L. T., & Zebua, E. S. (2018). Investigation of lockout/tagout procedure failure in machine maintenance process. Jurnal Teknik Industri, 20(2), 135-140. https://doi.org/10.9744/jti.20.2.135-140
  4. Hapsari, A., & Ardyanto, Y. D. (2014). Analisis faktor yang berhubungan dengan penerapan lock out tag out (LOTO) pada mekanik di plant department. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 3(1), 1-13.
  5. International Organization for Standardization. (2017). ISO 14118:2017 Safety of machinery: Prevention of unexpected start-up. ISO.
  6. Leder, J., Horlitz, T., Puschmann, P., Wittstock, V., & Schütz, A. (2019). Comparing immersive virtual reality and PowerPoint as methods for delivering safety training. Safety Science, 111, 271-286. https://doi.org/10.1016/j.ssci.2018.07.021
  7. Makransky, G., Borre-Gude, S., & Mayer, R. E. (2019). Motivational and cognitive benefits of training in immersive virtual reality based on multiple assessments. Journal of Computer Assisted Learning, 35(6), 691-707. https://doi.org/10.1111/jcal.12375
  8. Makransky, G., Terkildsen, T. S., & Mayer, R. E. (2019). Adding immersive virtual reality to a science lab simulation causes more presence but less learning. Learning and Instruction, 60, 225-236. https://doi.org/10.1016/j.learninstruc.2017.12.007
  9. Occupational Safety and Health Administration. (1989). The control of hazardous energy (lockout/tagout), 29 C.F.R. § 1910.147 (as amended). https://www.osha.gov/laws-regs/regulations/standardnumber/1910/1910.147
  10. Occupational Safety and Health Administration. (2022). Lockout/tagout (Fact sheet OSHA FS-3529). https://www.osha.gov/sites/default/files/publications/OSHAFS3529.pdf
  11. Pribadi, A. P., Jaladara, V., Silalahi, C. D. A. B., & Rizqi, Y. M. (2023). Application of digital simulation for training purposes through virtual reality in the workplace. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 12(3), 457-464. https://e-journal.unair.ac.id/IJOSH/article/view/43682
  12. Republik Indonesia. (1970). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1.
  13. Scorgie, D., Feng, Z., Paes, D., Parisi, F., Yiu, T. W., & Lovreglio, R. (2024). Virtual reality for safety training: A systematic literature review and meta-analysis. Safety Science, 171, 106372. https://doi.org/10.1016/j.ssci.2023.106372

AMBIL LANGKAH BERIKUTNYA

Diskusikan Topik Ini Bersama Kami

CTA // KAPAN PUN ANDA SIAP

Naikkan Standar Keselamatan di Tempat Kerja Anda.

Konsultasi pertama tidak dipungut biaya. Ceritakan persoalan Anda, dan tim kami akan menjawab dengan langkah yang jelas, bukan jargon.