Pada Rabu sore, 11 Oktober 2023, ledakan dan kebakaran terjadi di sebuah pabrik smelter nikel di Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Menurut perwakilan perusahaan yang dikutip media, kebakaran terjadi saat pabrik masih dalam masa uji coba mesin dan peralatan. Api berawal dari tempat persiapan bubuk batu bara di samping pabrik utama, lalu menjalar ke lantai bawah dan atas. Seorang pekerja mencoba memadamkan api dengan mencoloknya memakai besi, kemudian terjadi ledakan yang mengenai dirinya dan seorang rekannya. Satu pekerja meninggal dan satu lainnya terluka, sementara penyebab ledakan masih diselidiki kepolisian (Warsudi, 2023).
Laporan investigasi resmi belum tersedia ketika tulisan ini disusun, sehingga kami tidak menebak penyebabnya. Yang dapat dibahas adalah pertanyaan yang berlaku bagi setiap fasilitas yang menggiling, mengeringkan, atau mengangkut serbuk batu bara: metode analisis bahaya mana yang paling mampu menangkap risiko debu mudah terbakar?
Debu sebagai Bahaya Proses
Kajian Badan Investigasi Keselamatan Kimia Amerika Serikat mencatat 281 kejadian kebakaran dan ledakan debu mudah terbakar pada 1980 sampai 2005, yang menewaskan 119 pekerja dan melukai 718 orang. Kajian yang sama menyoroti ledakan sekunder, yaitu ledakan awal yang menerbangkan debu yang menumpuk di lantai, balok, dan permukaan lain sehingga menghasilkan ledakan berikutnya yang lebih luas (U.S. Chemical Safety and Hazard Investigation Board [CSB], 2006). Telaah atas lebih dari 2.000 kecelakaan ledakan debu di dunia antara 1785 dan 2012 juga memetakan jenis debu, sumber penyulut, jenis usaha berisiko tinggi, dan peralatan kritis yang paling sering terlibat (Yuan dkk., 2015).
Ledakan debu umumnya dijelaskan dengan segi lima ledakan: bahan bakar berupa debu mudah terbakar, oksigen, sumber penyulut, dispersi debu menjadi awan, dan ruang yang terkungkung (Center for Chemical Process Safety [CCPS], 2017). Standar NFPA 652 mewajibkan pemilik fasilitas yang menangani partikel padat mudah terbakar melakukan analisis bahaya debu (dust hazard analysis, DHA), dan menegaskan bahwa tidak adanya kejadian sebelumnya tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melakukannya (National Fire Protection Association [NFPA], 2019).
Empat Pendekatan
Kami membandingkan empat pendekatan dengan empat kriteria: cakupan terhadap seluruh proses dan ruang bangunan, pemakaian data sifat debu, kebutuhan sumber daya, dan kecocokan untuk tahap uji coba.
- Daftar periksa inspeksi. Cepat, murah, dan baik untuk memantau kebersihan area setiap hari, tetapi hanya menangkap bahaya yang sudah tercantum dalam daftar.
- HAZOP. Menelusuri penyimpangan parameter proses dengan kata panduan seperti aliran berlebih, suhu tinggi, atau tekanan rendah. Pendekatan ini kuat untuk sistem fluida, termasuk aliran udara pembawa di penggiling, tetapi menurut penilaian kami kata panduan standar jarang memicu pembahasan debu yang lolos dari peralatan dan menumpuk di bangunan, padahal tumpukan itulah bahan bakar ledakan sekunder (CSB, 2006).
- DHA menurut NFPA 652. Tinjauan sistematis untuk mengidentifikasi dan menilai potensi kebakaran, nyala kilat, dan ledakan dari partikel padat mudah terbakar pada setiap proses dan kompartemen bangunan, beserta pengaman yang ada dan rekomendasinya (NFPA, 2019). CCPS menerbitkan pedoman pelaksanaannya secara rinci (CCPS, 2017).
- Kajian berbasis uji sifat debu. Parameter seperti indeks ledakan (Kst), tekanan ledakan maksimum, dan energi penyulutan minimum dipakai untuk merancang ventilasi ledakan, isolasi, dan supresi (CCPS, 2017). Hasilnya paling teliti, tetapi memerlukan laboratorium dan waktu.
Kelebihan dan Kekurangan
Kami menilai DHA paling tepat sebagai dasar karena kriteria cakupannya dirancang untuk debu, termasuk debu di luar peralatan yang tidak tersentuh HAZOP. HAZOP tetap berguna sebagai pelengkap untuk sistem penggilingan dan pengeringan batu bara, tempat suhu dan aliran udara menentukan keselamatan. Daftar periksa tidak dapat menggantikan keduanya, tetapi menjadi alat kendali harian setelah DHA menetapkan batas tumpukan debu. Uji sifat debu dibutuhkan ketika DHA merekomendasikan pengaman teknis yang harus dihitung.
Tahap uji coba memperbesar kebutuhan akan analisis yang sistematis. Peralatan baru dijalankan dengan kondisi yang sering berubah, sebagian pekerja baru mengenal sistemnya, dan prosedur darurat belum teruji. Untuk kebakaran di area persiapan serbuk batu bara, arah penyelidikan yang lazim diperiksa antara lain sumber panas di peralatan penggiling dan pengering, tumpukan debu di sekitar peralatan, dan apakah tindakan pemadaman awal ikut menerbangkan debu sehingga unsur dispersi dalam segi lima ledakan terpenuhi (CCPS, 2017). Semua itu adalah hipotesis yang perlu diuji penyelidik, bukan temuan atas kejadian di Kutai Kartanegara. Keterbatasan bukti juga perlu disebut: data CSB dan sebagian besar data telaah Yuan dkk. (2015) berasal dari Amerika Serikat dan Tiongkok, dan kami belum menemukan statistik nasional ledakan debu di Indonesia.
Langkah Praktis
- Lakukan DHA untuk setiap proses dan ruang yang menangani serbuk batu bara sebelum uji coba, atau segera bila uji coba sudah berjalan, karena NFPA 652 tidak menjadikan riwayat tanpa kejadian sebagai alasan untuk menunda (NFPA, 2019).
- Lengkapi DHA dengan HAZOP untuk penggiling dan pengering, lalu uji sampel debu bila rekomendasinya berupa ventilasi ledakan, isolasi, atau supresi (CCPS, 2017).
- Tetapkan batas tumpukan debu dan cara membersihkan yang tidak menerbangkan debu, lalu pantau dengan daftar periksa harian (CSB, 2006).
- Bahas cara memadamkan kebakaran debu dalam DHA dan pelatihan tanggap darurat, termasuk tindakan yang perlu dihindari karena dapat menyebarkan debu ke udara.
Peran Nusa Safety
Tim Nusa Safety dapat memfasilitasi identifikasi bahaya awal melalui HAZID dan Kajian Bahaya, studi penyimpangan proses lewat Studi HAZOP dan LOPA, dan peninjauan sistem pengelolaan keselamatan proses secara menyeluruh melalui Telaah Process Safety Management. Kesiapan proteksi kebakaran dan tanggap darurat di area berdebu dapat dinilai lewat FESA. Riksa uji dan sertifikasi yang diwajibkan regulasi tetap dilakukan oleh pihak berwenang atau PJK3 berizin.
Artikel ini adalah informasi umum dan bukan nasihat hukum atau profesional untuk kasus tertentu.
Daftar Pustaka
- Center for Chemical Process Safety. (2017). Guidelines for combustible dust hazard analysis. Wiley-AIChE. https://www.wiley.com/en-us/Guidelines+for+Combustible+Dust+Hazard+Analysis-p-9781119010166
- National Fire Protection Association. (2019). NFPA 652: Standard on the fundamentals of combustible dust (2019 ed.). NFPA. https://www.nfpa.org/codes-and-standards/nfpa-652-standard-development/652
- U.S. Chemical Safety and Hazard Investigation Board. (2006). Investigation report: Combustible dust hazard study (Report No. 2006-H-1). https://www.csb.gov/combustible-dust-hazard-investigation/
- Warsudi, A. (2023, October 12). Pekerja asal China tewas akibat ledakan dan kebakaran di pabrik smelter nikel PT KFI [Chinese worker killed in explosion and fire at a nickel smelter]. iNews.id. https://www.inews.id/regional/kaltim/pekerja-asal-china-tewas-akibat-ledakan-dan-kebakaran-di-pabrik-smelter-nikel-pt-kfi
- Yuan, Z., Khakzad, N., Khan, F., & Amyotte, P. (2015). Dust explosions: A threat to the process industries. Process Safety and Environmental Protection, 98, 57-71. https://doi.org/10.1016/j.psep.2015.06.008