SISTEM AKTIF · SEN–SAB 08.00–17.00 WIB Instagram LinkedIn

Robotaksi dan Laporan Insiden

Studi kasus laporan investigasi kecelakaan robotaksi San Francisco 2023: klasifikasi tabrakan yang keliru, laporan yang tidak lengkap, dan pelajaran bagi K3 digital.

Oleh M. Reza Huzain, SKM, MKKK 4 menit baca

A white and orange autonomous car with a roof-mounted array of lidar sensors and cameras, parked in a lot on Point Lobos Avenue, San Francisco, in July 2022
Foto: Wikimedia Commons, Dietmar Rabich (CC BY-SA 4.0)
Daftar isi
  1. Ringkasan Kejadian
  2. Faktor Teknis
  3. Faktor Organisasi
  4. Analisis dan Pelajaran
  5. Dukungan Nusa Safety

Pada 14 November 2024, Kantor Kejaksaan Federal Amerika Serikat untuk Distrik Utara California mengumumkan perjanjian penangguhan penuntutan dengan sebuah perusahaan kendaraan otonom di San Francisco. Perusahaan itu mengakui telah menyampaikan laporan yang tidak akurat dan tidak lengkap kepada National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) tentang kecelakaan yang melibatkan robotaksinya, dan setuju membayar denda pidana US$500.000 (Bellan, 2024; Fang, 2024). Perjanjian tiga tahun itu mewajibkan kerja sama dengan penyelidikan pemerintah, program kepatuhan keselamatan, dan laporan tahunan kepada kejaksaan. Pada September 2024, NHTSA juga telah menjatuhkan sanksi US$1,5 juta karena kecelakaan yang sama tidak dilaporkan secara lengkap (Bellan, 2024).

Kasus ini relevan bagi K3 di Indonesia karena tempat kerja makin banyak memakai sistem yang mengambil keputusan sendiri, dari kendaraan dan forklift otomatis sampai sensor dan aplikasi pelaporan insiden. Studi kasus ini bersandar pada laporan investigasi yang ditugaskan dewan direksi perusahaan kepada firma hukum Quinn Emanuel, yang memuat analisis akar masalah teknis oleh firma rekayasa Exponent sebagai lampiran, serta pernyataan resmi regulator. Nama korban tidak kami tulis.

Ringkasan Kejadian

Pada malam 2 Oktober 2023 di San Francisco, sebuah mobil yang dikemudikan manusia menabrak pejalan kaki di penyeberangan dan melemparkannya ke jalur sebuah kendaraan otonom di lajur sebelah. Kendaraan otonom itu menabrak pejalan kaki, berhenti sejenak, lalu bergerak lagi untuk menepi dengan kecepatan sampai 7,7 mil per jam dan menempuh sekitar 20 kaki sambil menyeret korban di bawah kendaraan (Quinn Emanuel Urquhart & Sullivan, 2024). Pada 24 Oktober 2023, California Department of Motor Vehicles [DMV] menangguhkan izin operasi tanpa pengemudi perusahaan itu, antara lain dengan dasar bahwa kendaraannya tidak aman bagi publik dan perusahaan telah menyampaikan informasi keselamatan yang keliru (California DMV, 2023).

Faktor Teknis

Analisis Exponent menemukan bahwa klasifikasi dan pelacakan pejalan kaki menjadi terputus-putus setelah ia ditabrak mobil pertama. Saat benturan, tubuh pejalan kaki sebagian besar tertutup dari pandangan sensor lidar, sehingga data pelacakan yang dipakai sistem deteksi tabrakan tidak menggambarkan posisi sebenarnya. Sistem lalu menyimpulkan bahwa benturan terjadi di samping, bukan di depan. Kesimpulan keliru inilah yang disebut sebagai akar masalah gerakan setelah tabrakan, karena benturan samping memicu respons yang lebih ringan, yaitu menepi ke lajur terluar, alih-alih berhenti darurat. Kendaraan baru berhenti total sekitar 8,8 detik setelah kontak awal, setelah sensor kecepatan roda mendeteksi keanehan. Exponent juga menilai benturan awal itu kemungkinan tidak dapat dihindari, bahkan oleh pengemudi manusia yang wajar (Quinn Emanuel Urquhart & Sullivan, 2024).

Faktor Organisasi

Laporan menemukan bahwa pada pagi 3 Oktober, pimpinan perusahaan dan lebih dari 100 karyawan sudah mengetahui bahwa kendaraan menyeret korban sekitar 20 kaki. Dalam pertemuan dengan regulator hari itu, perusahaan memutar video lengkap dan membiarkan video berbicara sendiri tanpa menjelaskan gerakan menepi dan penyeretan, padahal gangguan koneksi internet kemungkinan menghambat regulator melihat video dengan jelas di tiga pertemuan. Pimpinan juga terpaku pada upaya meluruskan pemberitaan bahwa kendaraan otonom bukan penabrak pertama. Laporan menyebut penyebabnya kepemimpinan yang lemah, kekeliruan penilaian, kurangnya koordinasi, mentalitas berhadapan dengan regulator, serta salah paham tentang kewajiban akuntabilitas dan transparansi, meskipun tidak menemukan bukti niat menyesatkan (Quinn Emanuel Urquhart & Sullivan, 2024). Menurut kejaksaan, laporan satu hari kepada NHTSA tidak menyebut penyeretan, dan laporan lanjutan 10 hari kemudian juga tidak memperbaikinya (Fang, 2024).

Analisis dan Pelajaran

Kami membaca kasus ini sebagai dua kegagalan pada lapisan berbeda. Lapisan pertama adalah logika sistem: respons setelah tabrakan bergantung pada klasifikasi yang dihasilkan dari data sensor yang tidak lengkap. Menurut kami, prinsip yang perlu diuji pada setiap sistem otomatis di tempat kerja adalah respons yang dipilih ketika data tidak pasti, apakah sistem memilih kondisi paling aman atau melanjutkan tugasnya. Lapisan kedua adalah pelaporan. Algoritme yang keliru dapat diperbaiki, tetapi laporan yang tidak lengkap membuat regulator dan publik kehilangan kepercayaan, dan dalam kasus ini menjadi dasar sanksi dari lebih dari satu lembaga.

Di Indonesia, Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan mewajibkan pengurus atau pengusaha melaporkan tiap kecelakaan, termasuk kejadian berbahaya lainnya (Pasal 2), secara tertulis paling lambat 2 x 24 jam, dan laporan lisan boleh disampaikan lebih dulu (Pasal 4) (Departemen Tenaga Kerja [Depnaker], 1998). Pelajaran praktis yang kami tarik:

  • Uji skenario gagal pada sistem otomatis, termasuk apa yang terjadi ketika sensor terhalang atau objek tidak terklasifikasi.
  • Simpan data log sistem secara utuh setelah insiden, dan tetapkan siapa yang berwenang membacanya.
  • Pastikan formulir laporan insiden, termasuk di aplikasi K3, menampung kejadian lanjutan dan memungkinkan koreksi tercatat bila fakta baru ditemukan.
  • Pisahkan komunikasi media dari laporan kepada pengawas, dan tulis fakta yang merugikan perusahaan secara eksplisit.

Batas studi kasus ini perlu disebut. Laporan investigasi ditugaskan oleh perusahaan sendiri, dan kerangka regulasinya adalah kerangka Amerika Serikat.

Dukungan Nusa Safety

Nusa Safety membantu perusahaan merancang alur pelaporan insiden digital yang lengkap dan dapat ditelusuri melalui layanan digitalisasi HSE dan pengembangan perangkat lunak HSSE. Tim investigasi internal dapat dilatih menggali faktor teknis dan organisasi melalui pelatihan investigasi insiden dan analisis akar masalah.

Artikel ini adalah informasi umum dan bukan nasihat hukum atau profesional untuk kasus tertentu.

Daftar Pustaka

  1. Bellan, R. (2024, November 15). GM's Cruise to pay $500,000 fine to DOJ, admits submitting false report. TechCrunch. https://techcrunch.com/2024/11/15/gms-cruise-to-pay-500000-fine-to-doj-admits-submitting-false-report/
  2. California Department of Motor Vehicles. (2023, October 24). DMV statement on Cruise LLC suspension. https://www.dmv.ca.gov/portal/news-and-media/dmv-statement-on-cruise-llc/
  3. Departemen Tenaga Kerja. (1998). Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan [Minister of Manpower Regulation No. PER.03/MEN/1998 on Accident Reporting and Investigation Procedures]. https://jdih.kemnaker.go.id/peraturan/detail/2214/peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-3-tahun-1998
  4. Fang, T. (2024, November 14). Cruise admits to false report in 2023 dragging of San Francisco pedestrian. CBS News Bay Area. https://www.cbsnews.com/sanfrancisco/news/cruise-automation-admits-false-report-sf-pedestrian-dragging/
  5. Quinn Emanuel Urquhart & Sullivan. (2024). Report to the Boards of Directors of Cruise LLC, GM Cruise Holdings LLC, and General Motors Holdings LLC regarding the October 2, 2023 accident in San Francisco (Attachment A to Cruise LLC's informational filing with the California Public Utilities Commission, January 25, 2024). https://docs.cpuc.ca.gov/PublishedDocs/Efile/G000/M524/K929/524929444.PDF

AMBIL LANGKAH BERIKUTNYA

Diskusikan Topik Ini Bersama Kami

CTA // KAPAN PUN ANDA SIAP

Naikkan Standar Keselamatan di Tempat Kerja Anda.

Konsultasi pertama tidak dipungut biaya. Ceritakan persoalan Anda, dan tim kami akan menjawab dengan langkah yang jelas, bukan jargon.