Pada 25 Juli 2024, Chemical Safety and Hazard Investigation Board (CSB) Amerika Serikat menerbitkan studi keselamatan berjudul Remote Isolation of Process Equipment. Studi ini menelaah sejumlah kejadian yang pernah diselidiki CSB, antara lain kebakaran tangki Intercontinental Terminals Company, kebakaran dan ledakan kilang Philadelphia Energy Solutions, dan ledakan pabrik TPC Group di Port Neches, ketiganya pada 2019. Kesimpulannya, industri kimia belum sepenuhnya menyadari bahwa isolasi jarak jauh yang efektif sangat menentukan kecepatan menghentikan lepasan bahan berbahaya (U.S. Chemical Safety and Hazard Investigation Board [CSB], 2024a). Pada kebakaran kilang Philadelphia, sekitar 676.000 pon hidrokarbon dan lebih dari 5.200 pon asam fluorida terlepas, dengan kerugian properti diperkirakan US$750 juta (CSB, 2024a).
Pesan ini relevan bagi Indonesia, karena tangki timbun dan pipa berisi bahan mudah terbakar atau beracun ada di kilang, terminal BBM, pabrik kimia, hingga gudang pelarut di kawasan industri. Artikel ini menjelaskan metode sederhana untuk menilai apakah suatu peralatan memerlukan katup isolasi yang dapat ditutup dari jarak jauh atau secara otomatis.
Konsep Isolasi Darurat
Saat terjadi kebocoran, kecepatan menghentikan aliran menentukan besar kecilnya lepasan. Studi CSB mengutip API RP 553 yang membagi katup blok darurat ke dalam empat tipe. Tipe A dioperasikan manual di dekat peralatan. Tipe B juga manual dan tahan api, dipasang paling dekat 7,6 m dari sumber bocoran. Tipe C adalah tipe B yang digerakkan tenaga, dengan kendali di lokasi katup. Tipe D dikendalikan dari jarak jauh, dengan kendali paling dekat 12 m dari sumber bocoran dan di luar zona api (CSB, 2024b). CSB menegaskan bahwa katup tipe A, B, dan C tidak berfungsi andal pada kejadian katastrofik karena sering tidak dapat didekati dengan aman (CSB, 2024b).
Health and Safety Executive (HSE) Inggris menyebut katup jenis ini remotely operated shutoff valve (ROSOV), dan menyebut versi yang menutup sendiri berdasarkan sinyal detektor sebagai automatic shutoff valve (ASOV) (Health and Safety Executive [HSE], 2004).
Lima Langkah Penilaian
Langkah berikut adalah sintesis kami dari lima tahap pedoman HSE dan alat keputusan Center for Chemical Process Safety (CCPS) yang ditampilkan dalam studi CSB.
- Kenali bahayanya. Kumpulkan lembar data keselamatan bahan, lalu tentukan apakah bahan itu mudah terbakar, beracun, korosif, atau gabungannya. Untuk bahan dengan bahaya ganda, setiap bahaya dinilai terpisah dan standar yang lebih tinggi yang dipakai (HSE, 2004).
- Saring dengan pertanyaan kunci. Alat keputusan CCPS yang dikutip CSB menanyakan sifat mudah terbakar, apakah persediaan di bawah 2.000 galon, sifat beracun atau korosif, tekanan operasi yang tinggi, operasi di dekat titik nyala atau berupa gas cair, dan letak di area yang peka kebakaran. Pedoman CCPS juga menyebut peralatan dengan persediaan cairan atau gas mudah terbakar lebih dari 5.000 galon, sekitar 19 m3, sebaiknya diberi katup isolasi darurat (CSB, 2024b).
- Nilai risikonya, termasuk waktu tanggap. HSE meminta waktu tanggap operator dipecah menjadi deteksi, diagnosis, dan tindakan, termasuk waktu mengenakan APD dan kemungkinan operator ragu menutup katup karena khawatir dikritik kemudian (HSE, 2004).
- Catat hasil dan alasannya, terutama ketika keputusannya adalah tidak memasang katup jarak jauh di tempat yang menurut kriteria merupakan praktik baik (HSE, 2004).
- Pasang bila layak secara wajar, lalu tinjau ulang secara berkala, karena perubahan kapasitas, jumlah penduduk sekitar, atau biaya teknologi dapat mengubah kesimpulan (HSE, 2004).
Contoh Penerapan
Contoh berikut ilustratif, bukan kasus nyata. Sebuah pabrik menyimpan 25 m3 pelarut mudah terbakar dalam tangki harian yang mengalir ke pompa transfer di gedung produksi. Volume itu setara sekitar 6.600 galon, di atas angka 5.000 galon dalam pedoman CCPS (CSB, 2024b). Katup manual di kaki tangki berada di dalam tanggul, sehingga saat kebocoran terbakar operator tidak dapat mendekatinya. Dengan langkah di atas, tim pabrik akan sampai pada kebutuhan katup tipe D yang dapat ditutup dari ruang kendali dan menutup sendiri ketika detektor api aktif, disertai jadwal uji fungsi.
Di Indonesia, penilaian ini dapat ditempatkan dalam kerangka Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja. Keputusan ini menetapkan Nilai Ambang Kuantitas, misalnya 100 ton untuk cairan sangat mudah terbakar dan 50 ton untuk gas mudah terbakar (Pasal 14). Perusahaan yang melampauinya dikategorikan berpotensi bahaya besar (Pasal 15) dan wajib membuat dokumen pengendalian potensi bahaya besar (Pasal 16) yang memuat, antara lain, identifikasi bahaya dan pengendalian risiko, rancang bangun serta pengoperasian instalasi, dan rencana penanggulangan keadaan darurat (Pasal 19) (Departemen Tenaga Kerja [Depnaker], 1999). Hasil penilaian katup isolasi layak menjadi bagian dari dokumen tersebut.
Batas Metode
Kami memandang alat penyaring ini berguna untuk menentukan prioritas, tetapi tidak menggantikan analisis bahaya proses seperti HAZOP atau LOPA. Angka galon dalam pedoman CCPS berasal dari praktik industri Amerika Serikat dan bukan ketentuan hukum di Indonesia. Katup jarak jauh juga dapat gagal: HSE (2004) mencatat kegagalan menutup karena perawatan dan uji yang kurang, kebocoran internal karena spesifikasi yang salah, operator yang tidak terlatih, dan katup yang rusak oleh kebakaran itu sendiri. Karena itu, katup isolasi perlu diperlakukan sebagai barrier yang diuji berkala, bukan perlengkapan yang dipasang lalu dilupakan. HSE juga menegaskan bahwa kekhawatiran akan trip palsu tidak dengan sendirinya menjadi alasan untuk tidak memasang ASOV (HSE, 2004).
Peran Nusa Safety
Nusa Safety dapat membantu perusahaan memasukkan penilaian isolasi darurat ke dalam studi HAZOP dan LOPA, meninjau kesiapan barrier beserta uji fungsinya melalui Process Safety Management Review, dan menyusun Dokumen Pengendalian Bahaya Besar bagi perusahaan yang melampaui Nilai Ambang Kuantitas.
Artikel ini adalah informasi umum dan bukan nasihat hukum atau profesional untuk kasus tertentu.
Daftar Pustaka
- Departemen Tenaga Kerja. (1999). Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja [Minister of Manpower Decree No. KEP.187/MEN/1999 on the control of hazardous chemicals in the workplace]. https://jdih.kemnaker.go.id/peraturan/detail/2608/keputusan-menteri-nomor-187-tahun-1999
- Health and Safety Executive. (2004). Remotely operated shutoff valves (ROSOVs) for emergency isolation of hazardous substances: Guidance on good practice (HSG244). HSE Books. https://www.hse.gov.uk/pubns/books/hsg244.htm
- U.S. Chemical Safety and Hazard Investigation Board. (2024a, July 25). U.S. Chemical Safety Board releases new study calling for greater use of remote isolation equipment at chemical facilities [Press release]. https://www.csb.gov/us-chemical-safety-board-releases-new-study-calling-for-greater-use-of-remote-isolation-equipment-at-chemical-facilities/
- U.S. Chemical Safety and Hazard Investigation Board. (2024b). Remote isolation of process equipment (Safety Study No. 2024-01-H). https://www.csb.gov/assets/1/6/CSB_RIPE_Study_Finalv.pdf