Sebagian besar rencana tanggap darurat di tempat kerja Indonesia disusun dari dalam ke luar. Rencana itu berangkat dari apa yang dapat terjadi di dalam lokasi dan diam-diam menganggap dunia luar tetap normal: jalan terbuka, rumah sakit terjangkau, udara layak dihirup. Musim kebakaran hutan dan lahan 2026 menguji anggapan tersebut. Selama berminggu-minggu, tempat kerja dan sekolah di sebagian Sumatera dan Kalimantan beroperasi di bawah asap yang tidak mereka hasilkan dan tidak dapat mereka hentikan.
Artikel ini memandang karhutla sebagai keadaan darurat eksternal, yang bersumber di luar pagar perusahaan tetapi masuk ke tempat kerja melalui udara, air, jalur akses, dan manusia. Pembahasannya menarik pelajaran tingkat sistem dari sisi keselamatan, lingkungan, serta kesejahteraan pekerja dan keluarganya, tanpa menyalahkan individu atau perusahaan tertentu.
Latar belakang: mengapa keadaan darurat eksternal berbeda
Hukum Indonesia sebenarnya sudah memandang melampaui pagar. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja memuat syarat keselamatan untuk mencegah dan memadamkan kebakaran, menyediakan jalan penyelamatan diri saat kebakaran atau kejadian berbahaya lain, serta mengendalikan debu, asap, dan gas. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 menempatkan perencanaan keadaan darurat sebagai bagian dari SMK3 yang wajib diterapkan perusahaan dan dinilai dalam audit. SNI ISO 45001:2018 klausul 8.2 meminta organisasi merencanakan tanggapan terhadap situasi darurat, mengujinya secara berkala, dan mengomunikasikan informasi yang relevan kepada pekerja, kontraktor, tamu, layanan tanggap darurat, instansi pemerintah, dan bila sesuai, masyarakat sekitar (Badan Standardisasi Nasional, 2018). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memberi lembaga usaha peran dalam penanggulangan bencana. Bagi usaha berbasis lahan, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 dan Peraturan Menteri LHK Nomor P.32/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2016 mengatur kewajiban mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan.
Semuanya menuntut identifikasi keadaan darurat yang dapat diperkirakan. Keadaan darurat eksternal berbeda dari yang internal dalam tiga hal. Pertama, organisasi tidak dapat menghilangkan sumbernya, sehingga pengendalian bertumpu pada paparan, konsekuensi, dan pemulihan. Kedua, kejadiannya berlarut, sering berminggu-minggu, sehingga kelelahan, pasokan, dan semangat kerja menjadi bahaya tersendiri. Ketiga, dampaknya menimpa keluarga pekerja dan masyarakat pada saat yang sama, sehingga batas antara kesehatan kerja dan kesehatan masyarakat menjadi tipis.
Buku ringkasan riset kebakaran lahan liar dari Office of Research and Development, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), menggambarkan asap kebakaran sebagai campuran kompleks gas, pencemar udara berbahaya, uap air, dan partikel halus PM2.5 yang dapat menjangkau masyarakat di dekat api maupun jauh di arah angin (U.S. Environmental Protection Agency [EPA], t.t.). Beberapa temuan dalam buku itu sangat relevan bagi lahan gambut Indonesia:
- Dalam studi inhalasi pada mencit, asap pembakaran gambut dan eukaliptus menimbulkan peradangan paru lebih besar daripada asap kayu ek, dan asap fase menyala lebih toksik per satuan massa dibanding fase membara (Kim et al., 2019).
- Setelah kebakaran gambut 2008 di pedesaan North Carolina, kunjungan instalasi gawat darurat untuk asma, penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia dan bronkitis akut, serta gagal jantung meningkat bermakna di wilayah terpapar, dan risikonya tetap tinggi hingga lima hari setelah paparan (Rappold et al., 2011).
- Di California, risiko henti jantung di luar rumah sakit paling tinggi pada hari berasap pekat dan bertahan beberapa hari sesudahnya (Jones et al., 2020).
- Paparan PM2.5 harian, bahkan per jam, berkaitan dengan turunnya atensi orang dewasa dalam hitungan jam (Cleland et al., 2022), hal yang penting bagi pengemudi, operator, dan pemegang tugas kritis keselamatan lainnya.
Bukti regional sejalan. Pemodelan kabut asap 2015 memperkirakan sekitar 100.300 kematian berlebih di Indonesia, Malaysia, dan Singapura (Koplitz et al., 2016). Kajian di Kalimantan Tengah memperkirakan kebakaran gambut menaikkan rerata tahunan PM2.5 sekitar 26 µg/m³ pada periode 2011 sampai 2015 (Uda et al., 2019), padahal pedoman WHO untuk rerata tahunan adalah 5 µg/m³ dan untuk rerata 24 jam adalah 15 µg/m³ (World Health Organization, 2021). Meta-analisis terbaru atas studi di Kalimantan melaporkan kenaikan kunjungan klinik pernapasan sebesar 36,6 persen pada hari berkabut asap (Aprianti et al., 2025).
Isu terkini: musim karhutla 2026
Pada 16 Oktober 2026, BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, terbanyak di Sumatera Selatan dengan 189 titik, dan melaporkan bahwa asap sempat masuk ke Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek. BMKG memperkirakan kondisi relatif kering berlanjut pada 17 sampai 24 Oktober di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan (CNN Indonesia, 2026b).

CNN Indonesia (2026a) memberitakan bahwa Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak karhutla. Pada 15 Oktober 2026, Menteri Kesehatan mengimbau bayi, balita, lansia, dan ibu hamil membatasi aktivitas di luar rumah, meminta mereka yang harus keluar memakai masker, sebaiknya N95, dan menganjurkan siapa pun yang mengalami batuk, iritasi mata, atau iritasi kulit yang menetap untuk segera ke puskesmas (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026). Di Palangka Raya, Dinas Kesehatan Kota mencatat 10.240 kasus ISPA sejak Juni hingga awal Oktober (detikHealth, 2026), dan Dinas Pendidikan memperpanjang pembelajaran jarak jauh bagi PAUD hingga SMP pada 19 sampai 21 Oktober berdasarkan pemantauan ISPU selama empat hari berturut-turut (Prokalteng, 2026).
Setiap fakta itu punya padanan di tempat kerja: titik panas adalah peringatan dini, kasus ISPA berarti ketidakhadiran dan kapasitas yang menurun, dan sekolah daring berarti banyak pekerja mengasuh anak sambil tetap menjalani giliran kerja.
Pelajaran dan rekomendasi
Masukkan bahaya eksternal ke register risiko
HIRADC dan register risiko korporat perlu menyebut asap, api yang mendekat, gangguan akses, dan air yang tercemar sebagai bahaya dengan penyebab, konsekuensi, dan pengendaliannya sendiri, lalu meninjaunya sebelum musim kemarau. Analisis BowTie berguna di sini: ancamannya berada di luar pagar, sehingga bobot pengendalian jatuh pada barrier pencegahan di batas lokasi dan barrier pemulihan di dalamnya.

Tetapkan rencana pemicu dan tindakan berbasis kualitas udara dan titik panas
Keputusan saat berasap tidak boleh bergantung pada penilaian seseorang di pagi yang berkabut. Organisasi dapat menetapkan tingkat siaga yang dikaitkan dengan ISPU menurut Peraturan Menteri LHK Nomor P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2020, dengan kategori baik (sampai 50), sedang (51 sampai 100), tidak sehat (101 sampai 200), sangat tidak sehat (201 sampai 300), dan berbahaya (di atas 300), serta dengan jumlah titik panas BMKG dalam radius tertentu dari lokasi. Setiap tingkat menyatakan apa yang berubah dan siapa yang berwenang memutuskan. Standar asap kebakaran di California dapat menjadi pembanding: pemberi kerja wajib bertindak ketika indeks kualitas udara PM2.5 mencapai 151, menyediakan respirator untuk penggunaan sukarela, dan mewajibkan penggunaannya di atas 500 (California Code of Regulations, Title 8, Section 5141.1). Skalanya berbeda dengan ISPU, tetapi prinsip pemicu yang disepakati sejak awal dapat diterapkan. Sensor berbiaya rendah dapat mengisi kekosongan antarstasiun resmi, walaupun uji EPA menunjukkan sensor membaca terlalu tinggi saat berasap dan memerlukan koreksi (EPA, t.t.).
Lindungi pekerja luar ruang dengan benar
Eliminasi dan substitusi terbatas ketika bahayanya adalah udara itu sendiri, sehingga modifikasi pekerjaan didahulukan: jadwalkan ulang pekerjaan berat di luar ruang, perpendek durasi paparan, dan pindahkan tugas ke dalam ruang bila memungkinkan. Bila perlindungan pernapasan diperlukan, perlindungannya harus nyata. National Institute for Occupational Safety and Health (2023) menegaskan bahwa masker kain, masker bedah, dan bandana tidak rapat ke wajah dan tidak menyaring partikel asap, sedangkan respirator N95 atau P100 hanya efektif bila pas dan dipakai dengan benar. Konsekuensinya, perlu uji kecocokan, pelatihan, persediaan untuk berminggu-minggu, serta perhatian bagi pekerja berjenggot atau berpenyakit pernapasan.
Sediakan ruang udara bersih
Tetap di dalam ruangan hanya membantu bila udara di dalam memang lebih bersih. Riset EPA menemukan bahwa asap menyusup ke dalam bangunan, dan kadar PM2.5 di dalam ruang sangat dipengaruhi perawatan sistem ventilasi, efisiensi filter, serta pengaturan pintu dan jendela. Pembersih udara portabel menurunkan PM2.5 di dalam ruang, tetapi filternya cepat jenuh saat berasap dan perlu sering diganti (EPA, t.t.). Kantor, ruang kendali, ruang makan, klinik, dan mes pekerja sebaiknya memiliki sedikitnya satu ruang udara bersih dengan bukaan yang tertutup rapat, penyaringan memadai, dan alat pemantau di dalam ruang.
Rencanakan api di batas lokasi dan akses yang terputus
Bila konsesi atau proyek berbatasan dengan lahan rawan terbakar, rencana perlu memuat jalur evakuasi yang memperhitungkan asap di jalan, titik kumpul alternatif, sekat bakar, sumber air untuk pemadaman, dan pembagian peran yang disepakati dengan BPBD, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api. Perencanaan keberlangsungan usaha sesuai ISO 22301:2019 perlu mencakup pemasok, logistik, dan jumlah awak minimum untuk menjaga operasi kritis tetap aman.
Pantau air dan abu
Dampak lingkungan bertahan lebih lama daripada asap. Kajian peneliti EPA menemukan bahwa nutrien, logam, dan senyawa organik di daerah aliran sungai yang terbakar meningkat, kadang hingga berlipat-lipat, sesekali melampaui baku mutu air minum bahkan pada air olahan, dan sebagian besar efeknya berlangsung kurang dari lima tahun (Paul et al., 2022). Lokasi yang mengambil air baku dari sungai atau sumur di dekat area terbakar perlu menambah pengambilan sampel pascakebakaran, mengelola abu dan limpasan dari lahannya sendiri, dan mencatat dampak terkait kebakaran dalam pelaporan lingkungan.
Perhatikan kesejahteraan, bukan hanya paru-paru
Kabut asap yang berkepanjangan menekan manusia dengan cara yang jarang tercatat dalam statistik insiden. Saat kabut asap 2013 di Singapura, persepsi bahaya dan jumlah keluhan fisik berhubungan dengan skor stres psikologis yang lebih tinggi (Ho et al., 2014). Pekerja mencemaskan anak, orang tua lanjut usia, dan napasnya sendiri. Dukungan praktis meliputi jam kerja fleksibel selama sekolah daring, informasi layanan kesehatan, masker untuk keluarga, serta atasan yang menanyakan kondisi, bukan sekadar menghitung kehadiran.
Berkomunikasi dengan jelas dan berkoordinasi sejak awal
Program Smoke Ready Communities yang dikaji EPA menunjukkan manfaat menyusun rencana tanggap asap bersama mitra kesehatan dan kedaruratan setempat sebelum musim tiba (EPA, t.t.). Di dalam organisasi, satu sumber informasi resmi tentang kualitas udara, tingkat siaga, dan keputusan mencegah kabar simpang siur serta praktik yang berbeda antargiliran dan antarkontraktor.
Kaitan dengan layanan Nusa Safety
Program Kesiapsiagaan dan Simulasi Darurat kami merancang skenario asap dan api di batas lokasi, latihan meja, dan simulasi, sedangkan Audit Keselamatan Kebakaran dan Darurat (FESA) meninjau rencana tanggap darurat, organisasi regu kebakaran, dan evakuasi. Lokakarya Penilaian Risiko dan JSA membantu tim memasukkan bahaya eksternal ke HIRADC, dan Kajian Teknik dan Penilaian Risiko mendukung analisis yang lebih dalam bagi aset yang berbatasan dengan lahan rawan terbakar. Untuk kewajiban lingkungan pascakebakaran, lihat Kepatuhan Lingkungan dan PROPER.
Dari sisi digital, APEX Risk menghimpun HIRADC, analisis dampak bisnis, dan register risiko iklim fisik dalam satu register risiko korporat beserta indikator risiko kunci, sementara AIRA membantu penilai menyusun BowTie untuk skenario seperti masuknya asap ke ruang kerja atau api yang mencapai batas lokasi. Pelatihan bersertifikat seperti regu pemadam kebakaran dan petugas P3K diselenggarakan bersama mitra PJK3 berizin, karena Nusa Safety tidak menerbitkan sertifikat. Untuk mendiskusikan kebutuhan Anda, hubungi kami.
Kesimpulan
Musim karhutla 2026 mengingatkan bahwa kesiapsiagaan darurat hanya berhenti di pagar perusahaan di atas kertas. Asap melintasi batas, menurunkan atensi dan fungsi paru, memenuhi puskesmas, dan menutup sekolah, sementara api dapat merusak sumber air lama setelah padam. Organisasi yang memperlakukan karhutla sebagai keadaan darurat eksternal yang dapat diperkirakan, dengan bahaya yang tercatat, pemicu yang disepakati, perlindungan pernapasan yang efektif, ruang udara bersih, tindak lanjut lingkungan, dan kepedulian nyata kepada pekerja serta keluarganya, akan lebih siap menghadapi musim berikutnya, yang di Indonesia tidak pernah benar-benar jauh.
Artikel ini merupakan informasi umum, bukan nasihat hukum; untuk pertanyaan tentang penerapan peraturan tertentu pada organisasi Anda, silakan berkonsultasi dengan advokat.
Daftar Pustaka
- Aprianti, R., Fachri, M., & Lusida, N. (2025). Systematic review of the impact of haze in Kalimantan: A meta-analysis of PM2.5 exposure on non-communicable disease. JONDPAC, 3(2). https://doi.org/10.61843/jondpac.v3i2.1008
- Badan Standardisasi Nasional. (2018). SNI ISO 45001:2018 Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, persyaratan dengan panduan penggunaan. BSN.
- California Code of Regulations, Title 8, Section 5141.1. Protection from wildfire smoke. California Department of Industrial Relations. https://www.dir.ca.gov/title8/5141_1.html
- Cleland, S. E., Wyatt, L. H., Wei, L., Paul, N., Serre, M. L., West, J. J., Henderson, S. B., & Rappold, A. G. (2022). Short-term exposure to wildfire smoke and PM2.5 and cognitive performance in a brain-training game: A longitudinal study of U.S. adults. Environmental Health Perspectives, 130(6), 067005. https://doi.org/10.1289/EHP10498
- CNN Indonesia. (2026a, October 14). Kemenkes catat 283.270 orang idap ISPA akibat karhutla. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20261014112830-20-1415126/kemenkes-catat-283270-orang-idap-ispa-akibat-karhutla
- CNN Indonesia. (2026b, October 17). BMKG: Asap karhutla mulai jauhi Jabodetabek. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20261017194602-20-1416556/bmkg-asap-karhutla-mulai-jauhi-jabodetabek
- detikHealth. (2026, October 13). Dampak kabut asap, puluhan ribu warga terserang ISPA. https://health.detik.com/fotohealth/d-8704634/dampak-kabut-asap-puluhan-ribu-warga-terserang-ispa
- Ho, R. C., Zhang, M. W., Ho, C. S., Pan, F., Lu, Y., & Sharma, V. K. (2014). Impact of 2013 south Asian haze crisis: Study of physical and psychological symptoms and perceived dangerousness of pollution level. BMC Psychiatry, 14, 81. https://doi.org/10.1186/1471-244X-14-81
- International Organization for Standardization. (2019). ISO 22301:2019 Security and resilience, business continuity management systems, requirements. ISO.
- Jones, C. G., Rappold, A. G., Vargo, J., Cascio, W. E., Kharrazi, M., McNally, B., & Hoshiko, S. (2020). Out-of-hospital cardiac arrests and wildfire-related particulate matter during 2015-2017 California wildfires. Journal of the American Heart Association, 9(8), e014125. https://doi.org/10.1161/JAHA.119.014125
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, October 15). Menkes imbau kelompok rentan batasi aktivitas di luar rumah saat kabut asap. https://kemkes.go.id/id/menkes-imbau-kelompok-rentan-batasi-aktivitas-di-luar-rumah-saat-kabut-asap
- Kim, Y. H., King, C., Krantz, Q. T., Hargrove, M. M., George, I. J., McGee, J., Copeland, L., Hays, M. D., Landis, M. S., Higuchi, M., Gavett, S. H., & Gilmour, M. I. (2019). The role of fuel type and combustion phase on the toxicity of biomass smoke following inhalation exposure in mice. Archives of Toxicology, 93(6), 1501-1513. https://doi.org/10.1007/s00204-019-02450-5
- Koplitz, S. N., Mickley, L. J., Marlier, M. E., Buonocore, J. J., Kim, P. S., Liu, T., Sulprizio, M. P., DeFries, R. S., Jacob, D. J., Schwartz, J., Pongsiri, M., & Myers, S. S. (2016). Public health impacts of the severe haze in Equatorial Asia in September-October 2015. Environmental Research Letters, 11(9), 094023. https://doi.org/10.1088/1748-9326/11/9/094023
- National Institute for Occupational Safety and Health. (2023). Protecting workers and the public from wildfire smoke. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/niosh/bulletin/2023/wildfire-smoke.html
- Paul, M. J., LeDuc, S. D., Lassiter, M. G., Moorhead, L. C., Noyes, P. D., & Leibowitz, S. G. (2022). Wildfire induces changes in receiving waters: A review with considerations for water quality management. Water Resources Research, 58(9), e2021WR030699. https://doi.org/10.1029/2021WR030699
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara.
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.32/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.
- Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan/atau Lahan.
- Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
- Prokalteng. (2026, October 19). Kabut asap masih berbahaya, Disdik Palangka Raya perpanjang PJJ. Jawa Pos. https://prokalteng.jawapos.com/pemerintahan/pemko-palangka-raya/19/10/2026/kabut-asap-masih-berbahaya-disdik-palangka-raya-perpanjang-pjj/
- Rappold, A. G., Stone, S. L., Cascio, W. E., Neas, L. M., Kilaru, V. J., Carraway, M. S., Szykman, J. J., Ising, A., Cleve, W. E., Meredith, J. T., Vaughan-Batten, H., Deyneka, L., & Devlin, R. B. (2011). Peat bog wildfire smoke exposure in rural North Carolina is associated with cardiopulmonary emergency department visits assessed through syndromic surveillance. Environmental Health Perspectives, 119(10), 1415-1420. https://doi.org/10.1289/ehp.1003206
- Uda, S. K., Hein, L., & Atmoko, D. (2019). Assessing the health impacts of peatland fires: A case study for Central Kalimantan, Indonesia. Environmental Science and Pollution Research, 26. https://doi.org/10.1007/s11356-019-06264-x
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
- Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
- U.S. Environmental Protection Agency, Office of Research and Development. (n.d.). U.S. EPA wildland fire research: How we can understand and mitigate the public health and environmental impacts of wildland fire [Briefing book]. U.S. EPA.
- World Health Organization. (2021). WHO global air quality guidelines: Particulate matter (PM2.5 and PM10), ozone, nitrogen dioxide, sulfur dioxide and carbon monoxide. WHO.